Ditengah malam, di bawah gedung tertinggi kota Hisperis, kehebohan mulai merambat seperti gelombang pecah yang tak terbendung.

Air dalam jumlah besar tiba-tiba tercurah dari atas langit dan membasahi jalanan serta mengenai kendaraan yang melintas di jalan tersebut. Kilatan cahaya dari billboard dan kendaraan menyinari cipratan air yang membanjiri jalan, dan aroma asin laut memenuhi udara. Orang-orang berteriak, lari terbirit-birit, sebagian terpeleset saat ikan-ikan berukuran besar dan kecil jatuh berserakan bersama air, menggeliat tak berdaya di aspal kota yang hangat.

"Asalnya dari atas sana. Apakah ada kebocoran?!" kata salah satu penduduk yang hampir tertabrak kendaraan yang mendadak berbelok menghindari air yang jatuh.

"Kebocoran bagaimana?Apa kamu tidak bisa mengenalinya? Air ini memiliki aroma laut. Apakah ada angin badai yang membawa laut ketempat ini? Lihat banyak ikan berserakan!" kata penduduk lainnya.

Para petugas keamanan sipil segera mengaktifkan peringatan darurat. Lampu merah berkedip di sepanjang perimeter pusat kota, sementara layar informasi kota menyala dengan teks kuning menyala: STATUS SIAGA – SUMBER AIR BELUM DIKETAHUI.

Di lantai observasi menara Hisperis, beberapa operator pusat pengawasan sibuk mengatur drone pemantau. Puluhan kamera udara segera dikirimkan ke lokasi jatuhnya air, menyusuri titik koordinat yang ditandai berdasarkan laporan visual dari warga sipil dan satelit. Mereka bergerak cepat, mengitari gedung-gedung tinggi, menembus kabut tipis, berusaha mengungkap asal bencana dadakan ini.

Namun, tak ada yang mereka temukan.

Tidak ada sumber air.

Tidak ada tanda-tanda kebocoran.

Hanya genangan luas yang sudah mulai surut perlahan, meninggalkan sisa-sisa ikan laut yang terus menggeliat, dan orang-orang yang berdiri terpaku dengan wajah diliputi kebingungan.

"Koordinat pusat... kosong."

"Ulangi. Tidak ditemukan kebocoran? Kami sudah memeriksa seluruhnya tetapi tidak menemukan keanehan?!"

Para petugas merasa bingung.

"Drone termal juga tidak menangkap anomali. Seolah-olah... semua itu hanya jatuh dari langit dan menghilang begitu saja."

***

"Apa yang terjadi, Lynx? Kenapa tiba-tiba ada banyak air keluar dari portal?" tanya Leena dengan alis mengernyit, heran sekaligus cemas.

Mereka berdua berdiri tenang di atas langit bangunan tinggi tempat Lynx sebelumnya membuka portal. Dari atas mereka melihat kekacauan dan keributan yang sudah dibuatnya.

"Maafkan aku. Seharusnya aku memeriksa dulu lokasi tujuan teleportasi," jawab Lynx, menggaruk kepalanya meski tak gatal.

Ia segera memusatkan konsentrasi, menelusuri kembali jejak keberadaan kertas formasi yang pernah ia berikan kepada Lala. Selain itu, ia mengerahkan kekuatannya untuk meraba lokasi benda itu sekarang berada, bahkan mencoba melacak kendaraan atau jalur pergerakan yang membawanya.

Tak butuh waktu lama, Lynx membuka mata dan terdiam, ekspresinya berubah tegang.

"Bagaimana, Lynx? Apa yang kamu temukan?" tanya Leena, mulai gelisah melihat raut wajahnya.

"Kertas itu... berada di tempat yang tidak seharusnya," bisik Lynx lirih, nada suaranya dipenuhi keraguan. Seberkas rasa sesal terselip di matanya.

"Apa maksudmu?" desak Leena, semakin tak sabar.

"Lihat saja sendiri."

Lynx membuka portal teleportasi lain. Begitu mereka melangkah masuk, angin asin menyergap wajah mereka. Di hadapan mereka terbentang lautan luas, tak ada daratan sejauh mata memandang.

"Aku membuka portal sebelumnya tepat di dasar laut. Itu sebabnya air menerjang keluar," jelas Lynx sambil menatap ombak yang bergulung perlahan.

"Kenapa kertas itu bisa sampai di bawah laut? Jangan-jangan..." Leena tak sanggup melanjutkan.

Lynx menatapnya sejenak. Ia paham maksud Leena, tapi menolak membiarkan pikirannya hanyut ke arah yang buruk.

"Kertas itu... ada di dalam perut seekor paus raksasa. Aku belum tahu bagaimana bisa, tapi kita akan mencari tahu."

Seketika Lynx menghilang, lalu muncul kembali di angkasa, memanggul seekor paus raksasa seukuran kapal. Binatang laut itu menggeliat keras, namun kekuatan Lynx membuatnya tak berkutik. Ia mengangkat tangannya dan menyalurkan energi agar makhluk itu diam tanpa rasa sakit.

"Kertas formasi ada di dalam sini," ucapnya tenang, lalu menggunakan mata langit untuk menembus ke dalam tubuh sang paus.

Berbagai benda tampak terapung dalam perut makhluk itu. Ikan-ikan kecil, serpihan logam, dan beberapa potongan plastik. Di antaranya, kertas formasi miliknya masih utuh. Tapi tidak ada jejak manusia. Tak satu pun.

Lynx menarik napas panjang, sedikit lega.

"Apa gunanya aku terus membagikan kertas formasi kalau akhirnya selalu berakhir seperti ini..." gumamnya, jengkel.

"Lynx, kau yakin... Lala tidak di..." Leena masih ragu melanjutkan.

"Maksudmu, dimakan? Tidak. Aku tidak menemukan tanda-tanda seperti itu. Sepertinya paus ini hanya menelan sampah yang hanyut ke tengah laut."

Leena mengembuskan napas lega. "Syukurlah... aku takut terjadi sesuatu yang buruk."

"Aku tidak menemukan petunjuk langsung tentang Lala, tapi paus ini memakan banyak barang dari kota Hisperis. Ada tulisan-tulisan dan label yang berasal dari sana," ucap Lynx, menatap serpihan-serpihan logam dengan penuh tanda tanya.

"Kalau begitu, mungkin kita bisa menemui Kael. Dia lebih memahami dunia ini, pastinya dia tahu kemana kita harus mencari Lala."

"Kael, ya... memang. Tapi kita juga membutuhkannya untuk menelusuri penduduk Surya. Aku punya firasat buruk soal mereka. Semakin lama mereka di temukan... hal-hal yang tidak kita inginkan bisa terjadi," sahut Lynx sambil menutup matanya, mencoba menelusuri firasatnya lebih dalam.

Setelah memastikan tak ada petunjuk lain di perut paus itu, Lynx mengangkat tangan dan melepaskan kendalinya. Makhluk laut raksasa itu terjatuh kembali ke samudra.

Dentuman keras menggema, air laut muncrat tinggi ke angkasa. Ombak besar menghempas dari titik jatuhnya. Namun, saat air kembali tenang, tidak ada lagi sosok Lynx dan Leena di langit. Mereka telah pergi, kembali ke kota Hisperis.

***

"Komandan Vex, seseorang menghubungi satelit kita dari dimensi lain. Sinyal yang muncul, sama dengan mesin dimensi profesor Milo, namun lokasi mereka berbeda." Dokter Zhang melaporkan temuannya.

Saat menganalisa formula ciptaan profesor Milo, anak buah Dokter Zhang melaporkan terjadi anomali sinyal yang berasal dari dimensi lain. Dengan segera profesor Milo memeriksa data komputer dan menemukan kesamaan dengan sinyal yang dikirimkan, namun anehnya dimensi yang ditemukan berbeda. Dengan segera, Dokter Zhang menemui komandan Vex yang masih berada di laboratorium rahasia bersama Kanaya. Sejak rahasia Lala berhasil ditemukan, Komandan Vex lebih sering berada di laboratorium untuk memastikan project rahasia mereka berjalan dengan lancar.

Kanaya sendiri masih belum di bebaskan karena Komandan Vex masih memerlukannya untuk menggali informasi dari Lala jika di perlukan atau ada informasi yang dibutuhkan oleh dokter Zhang. Karena kemampuan serta kecerdasan Lala, jauh melampaui para profesor lainnya.

"Apa maksudmu lokasi mereka berbeda?" komandan Vex menatap tajam ke arah Dokter Zhang.

"Sinyal kedua berasal dari dimensi yang sangat berbeda dengan dimensi tempat kita menangkap profesor Lala. Mereka mencoba mengaktifkan mesin portal yang ada di lokasi rahasia profesor Milo." jawab dokter Zhang.

"Apa portal tersebut berhasil diaktifkan?" tanya Komandan Vex tanpa mengalihkan pandangan.

"Aku yakin portal tersebut belum aktif, karena dari informasi profesor Lala, kami sudah mengetahui frekuensi yang biasa di gunakan profesor Milo. Karena itu kami sudah membuat penghalang untuk memastikan tidak ada yang dapat menggunakan alat tersebut." Dokter Zhang menjelaskan.

Kanaya sudah memberikan laporan kepada komandan Vex dan Dokter Zhang mengenai keanehan dan kekuatan para penduduk di dimensi tersebut yang di sebut kultivator, mengenai kemampuan mereka yang bisa terbang, berteleportasi, kebal peluru diatas tingkatan tertentu, namun komandan Vex menganggap remeh. Tetapi setelah melihat kekuatan Lala yang tidak masuk akal, dia mulai mempercayainya dan membuat rencana untuk menghancurkan planet di dimensi tersebut sebelum mereka memiliki cara untuk datang ke dimensi ini dan membuat masalah di tempat mereka.

"Sepertinya rencanamu tidak berjalan dokter." Kata Kanaya dengan nada menyindir.

"Apa maksudmu Kanaya?" tanya dokter Zhang dengan nada emosi.

"Lihat ini." Kanaya menekan serangkaian kode di perangkat pada pergelangan tangannya. Seketika, layar hologram muncul, memutar rekaman berita langsung dari kota Hisperis. Air laut yang tumpah di tengah kota, ikan-ikan yang menggelepar di jalan, dan drone yang gagal mendeteksi penyebabnya. Semua terjadi begitu tiba-tiba, begitu asing.

"Mereka sudah disini."

